Lagi, Karya tulis adik tercinta Anggi Mutiara Lubis
Laman
Entri Populer
-
Mukashi, kono basho de kimi o aeta Watashi o mite waratte yo Kono basho de koi o mitsuketa Kokoro kara aishite Jikan ga sugite yuku...
-
Asmara : renai Air mata buaya : usonaki aijou Benci : nikumu kirai Benc...
-
A : Tanaka-san wa jimusho ni imasu ka ; 田中さんは事務所にいますか ; Apakah tuan Tanaka ada di kantor? B : Mou uchi e kaerimashita ; もう家へ帰りま...
-
Omoimasu ; おもいます; 思います ; Omou ; おもう ; 思う ; Omotte ; おもって ; 思って ; Mengira, berfikir, berpendapat Paatii ; パ―チ― ; Pesta Minasan ; みなさん ; 皆...
-
A : Nihon-go ga hanasemasu ka 日本語が話せますか Dapat anda berbicara bahasa Jepang ? B : Iie, mada amari hanasemasen いいえ、まだあまり...
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 Oktober 2014
Kamis, 09 Oktober 2014
MEMADU KEMESRAAN DENGAN ALAM, PUNCAK MERPATI, DAN EDELWEISS
Salam Lestari
Ini merupakan pendakian kedua ku, yaitu pendakian ke Merapi !!
Aku sama sekali tidak tahu, apakah karena aku seorang pendaki gunung,
maka aku jatuh cinta dengan gunung atau karena gunung yang membuatku
jatuh cinta jadi seorang pendaki gunung ?. aku ragu siapa diantara
kalian yang pertama kali membuat aku jatuh cinta.
Aku pernah mendengar cerita tentang bunga abadi atau bunga Edelweiss,
yang kata orang-orang bunga ini sangat indah. Dulu aku pernah mengambil
paksa bunga Edelweiss dari dompet salah satu teman seangkatan ku di
organisasi kepencinta alaman namanya Irfan Saputra yang kerap kali ku
sapa mesra dengan “KW/KYT”. Saat ku lihat, aku sedikit terkejut.
Edelweiss tidak wangi seperti mawar yang selalu aku bayangkan bahkan
tidak begitu istimewa alwalnya yang kulihat. Ia berwarna putih
kekuningan, kering, juga kecil, tapi ia begitu mungil. Tapi aku tidak
mau ambil pusing, aku tetap mengambilnya dan kusimpan ku pindahkan ke
dompetku yang mulai kusam ini.
Sekarang masih ku simpan Edelweiss itu di dalam dempet ku, bahkan aku
hampir lupa tentang Edelweiss. Sampai akhirnya KYT mengajakku mendaki
salah satu gunung yang ada puncak merpatinya bahkan ada juga
Edelweissnya. Hal ini mengingatkan ku kembali pada saat aku memaksa
mengambil Edelweiss dari dompetnya, yang membangkitkan rasa penasaran ku
akan Edelweiss dan gairahku untuk melakukan pendakian bersamanya.
Entah aku jatuh cinta pada Edelweiss juga puncak merpati. Aku juga tidak tau, hanya saja TIDAK !! jangan bawakan/berikan aku Edelweiss lagi kawan, tapi bawa saja aku bertemu dengan Edelweiss, aku ingin melihat dia saat dia bernafas bebas, sekalian belajar tentang hidupnya yang kata orang penuh dengan keabadian. Mencari tau tentang kesungguhannya dan kekukuhannya bagaimana ia bisa bertahan hidup diketinggian lebih dari 2000 MDPL dan diterpa angin badai.
Dan akhirnya pun aku dibawa menyusuri jalanan setapak menuju puncak
merpati dan taman keabadian Edelweiss. Perjalanan yang melelahkan
dibanding dengan pendakian sebelumnya yang bahkan hanya beranggotakan
tiga orang yaitu, Irfan, Rizka, dan juga aku (Anggi). Tapi kelelahan itu
kusembunyikan demi ingin menikmati keindahan dipuncak sana seperti
biasa saat aku melakukan pendakian, dilanda Flu akibat suhu udara.
Bahkan air mata terjatuh tanpa aku sadari menambah semangatku untuk
melanjutkan perjalanan ini. Tanpa kesadaran aku pun sampai dipuncak
merpati. Subhanallah !! maha besar kuasa Tuhan, tanpa dapat aku jelaskan
hanya bisa aku rasakan keindahan sunrise yang membawaku berimajinasi
tentang keindahan ciptaan Tuhan ini.
Di sela-sela keindahan ini sejenak ku terdiam, kuresapi sedalam mungkin
keindahan ini, terpaan angin yang sesekali membawaku berkhayal lebih
jauh lagi ingin lebih lama berada disini. Tapi keelokan ini belum
berakhir sampai di sini saat mereka yang sebelumnya sudah pernah
menginjakkan kaki disini membawaku ketaman yang biasa di kenal dengan
nama taman keabadian yaitu taman Edelweiss.
Entah Edelweiss yang membawa ku bertemu dengan puncak merpati, atau
puncak merpati yang membawaku bertemu dengan bunga keabadian ini
(Edelweiss). Sejak aku bertemu dengan puncak merpati dan Edelweiss aku
sadar kecintaan ku terhadap alam takkan pernah mati dan pudar.
Terima kasih telah membawaku ke taman Edelweiss dan puncak merpati yang
juga memecahkan rasa penasaranku akan puncak merpati dan taman
Edelweiss. Bahkan memberikanku banyak pengalaman semenjak kaki mulai
melangkah menuju puncak.
Padang, 09 Otober 2014
Anggi Mutiara Lubis
PERSENTUHAN KU DENGAN ALAM
Sejujurnya Postingan ini adalah hasil karya adikku bekal pengalamannya mendaki gunung yang minta kutuangkan dalam blog ini. Mari kita nikmati petualngannya
Petualangan dimulai !!!!
Melakukan kegiatan outdoor di alam, traking mendaki gunung, menyusuri
hutan dan goa, panjat tebing, juga lingkungan hidup. Aku mulai jatuh
cinta dengan dunia tersebut saat aku jadi mahasiswi di salah satu
Universitas di Sumatera Barat dan memasuki salah satu organisasi
kepencinta alaman. Dari sanalah persentuhanku mulai dekat dengan alam.
Mendaki gunung singgalang permulaannya, yang merupakan pendakian
perdanaku juga. Dari sini jugalah kecanduanku mulai terasa terhadap
gunung-gunung. Disela-sela statusku sebagai mahasiswi libur kusempatkan
untuk mencari waktu untuk bermanja dengan alam. Tapi, sayang tidak
semudah itu, disamping waktu yang tak mudah didapatkan, teman untuk
berpetualangpun lumayan susah untuk bisa ikut.
Bagiku gunung bisa jadi motivator tuna wisma namun banyak memberiku
pengalaman yang tak bisa aku ungkapkan, bahkan bisa membangkitkan
gairahku untuk terus mau menyentuh alam lebih leluasa. Keindahan yang ia
gambarkan tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa kugambarkan
dengan imajinasi ku sendiri. Bahkan gunung seolah berkata, yang kuat
mengayomi yang lemah dan kekompakan suatu tim pendakian berada dititik
terlemah. Dan jalanan setapak terjal juga kehijauan hutan menggambarkan
tak ada yang mudah didapatkan di dunia ini kecuali dengan perjuangan.
Kumulai perjalanan dari pasar koto baru, tempat yang dijadikan para
pendaki gunung sebagai tempat peristirahatan sebelum dan sesudah
pendakian. Tepatnya di malam hari setelah melakukan perjalanan
menggunakan angkutan umum dari depan kampus. Ya... ini lah mulanya
perjalanan, akan tetapi aku beserta tim yang berjumlah 7 orang (bang Cimot, bang Edi, bang Angga, Tirza, uni Dian, Iwin, dan aku sendiri (Anggi Lubis)) memutuskan untuk menginap satu malam dirumah salah satu senior
ku dari organisasi kepencinta alaman lebih tepatnya rumah bang Akhang
sampai tiba matahari pagi mulai bersinar. Inilah awal mula perjalanan
yang sebenarnya, kaki yang mulai melangkah lebih jauh lagi, bahkan mulai
terasa jalan pendakian, semangat masih mengguncang untuk melanjutkan
perjalanan ini, mungkin saja ini juga efek dari pendakian perdana.
Perjalanan yang lumayan jauh bagiku sebagai pendakian perdana. Padahal,
perjalanan ini belum seberapa jauh, bahkan baru saja sampai di tower
yang menandakan ini adalah posko pertama mungkin. Dalam keletihan yang
tak putus-putus aku mengusap hidungku yang aku mengira bahwa aku
mimisan, tapi sebenarnya tidak mungkin ini pengaruh dari suhu yang
membuat hidungku seperti dilanda flu, merasa ada cairan yang mengalir
didalamnya. Hawa dingin membuat bulu kudukku mulai berkembangan
perlahan, akan tetapi keringat juga bercucuran menetes perlahan membuat
baju yang kukenakan mulai terasa lembab, ibaratnya keringatan dalam
kedinginan. Begini lah suasana dan udara bahkan cuaca dialam bebas,
tidak dapat ditebak namun bisa dirasakan. Perjalanan ini tetap berlanjut
meskipun rinai hujan membasahi dedaunan yang hijau ini, menambah
keindahan dibawah puncak gunung ini mulai terlihat dan terasa.
Aku sudah mabuk kepayang dan tak sabar ingin menyaksikan telaga dewi
yang ada dipuncak singgalang. Sudah lama aku mendengar kesejukan dan
keindahan, bahkan keelokan telaga dewi ini dari para seniorku yang lebih
dulu menginjakkan kakinya di puncak singgalang. Mendaki singgalang aku
sempat heran mengenali medan yang ada disana, rasanya aneh, dari kaki
gunung hingga kepuncak gunung aku mendapati deretan tiang listrik yang
sengaja didirikan disepanjang jalan menuju puncak, bahkan yang paling
mengherankan bagiku adalah adanya tower yang berdiri di top singgalang.
Penglaman pertama naik gunung tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata
lagi tatkala aku telah sampai dipuncak dan melihat keindahan serta
merasakan kesejukannya secara nyata dan benar-benar nyata. Aku teringat
cerita salah satu dari seniorku tentang pendaki yang hilang. Cerita
pendaki gunung yang hilang bukan cerita baru bagiku, sebelumnya aku juga
sudah sering mendengarnya di berbagai media, hal itu aku tak mau ambil
pusing hanya saja aku berfikir positif agar aku tidak takabur dengan
alam, dan agar aku bisa mematuhi adat yang telah ada.
Keindahan alam terasa begitu menenangkan hati dan jiwa walaupun semilir
angin membuat tubuhku hampir membeku dan tak terasa lagi kakiku ketika
dipijakkan. Ku hangatkan diriku didekat api unggun yang telah meyala
didekat tenda kami yang berdiri dua tenda yang berhadapan. Santap kopi
di dini hari itu terasa nikmat, dan sembari menikmati kopi aku
menghitung ada belasan rombongan yang juga melakukan pendakian. Sialnya
saat aku memulai perbincangan dengan beberapa anggota tim kami tiba-tiba
saja hujan turun bahkan begitu lebat, malam yang dingin hanya
berselimutkan kain sarung bukan sleeping bag yang biasa dipakai untuk
tidur di puncak gunung, maklum saja pendakian perdana belum memiliki
alat-alat gungung yang lengkap dan bukan pendaki profesional.
Pagi ini secangkir teh menemani ku lalui kedinginan yang menyegat tubuhku, yang memaksaku harus mengenakan jaket gunung yang tebal, aku adalah salah satu orang yang tidak begitu suka mengenakan jaket. Tapi kali ini apa boleh buat memang benar-benar harus aku kenakan dikarenakan keadaan alam. “ buek an teh bia ndak dingin bana” bg cimot menyuruhku dalam bahasa minangnya, yang saat itu aku belum benar-benar paham dalam bahasa minang dikarenakan aku bukan berasal dari ranah Minang, melainkan MANDAILING . Sedikit mengurangi rasa dingin memang da kunikmati suasana sejuk ini. Dua hari camp dipuncak gunung sangat menenangkan jiwa ku bahkan aku tak pernah merasakan sebelumnya seperti saat itu, tenang, damai, bahkan jauh dari kebisingan yang tiap hari aku dapatkan di kota tempatku melanjutkan studi, walau sebenarnya aku harus menahan kedinginan yang begitu menyengat. Inilah awal mula kecanduanku terhadap alam.
Padang, 09 Oktober 2014
Anggi Mutiara Lubis
Kamis, 07 Agustus 2014
Aek Nabontar (My Paradise)
Longat, 02 Agustus 2014
Read More..
Hari ini, sabtu 02 08 2014 atau hari ke 6 Lebaran 1435 H saya (Roy Samsuri Lubis), Adik Perempuanku tercinta (Anggi Mutiara Lubis), Ali Nahri Rangkuti (salah satu orang yang aku iri padanya dikarenakan banyak dan seringnya dia mendaki gunung dan melihat alam indah hutan rimba), Mahyudi Rangkuti, Muhammad Yusuf, Ahmad Rizal dan Anhar Rangkuti sepakat untuk menghabiskan sisa - sisa liburan yang tak seberapa lagi dengan berjalan ke tengah hutan rimba dekat kampung untuk menyaksikan keindahan ciptaan tuhan.
Persiapan pendakian kali ini tidak begitu rumit sebab kami bisa mengandalkan Ali Nahri dan Anggi Mutiara yang tergabung dalam MAPALA di kampusnya masing - masing, dengan keberadaan mereka acara packing dan belanja logistik lebih mudah dan lebih terencana.
Sebelum memulai pendakian, kami saling meningatkan bahwa sebagaima mestinya manusia yang percaya akan adanya Tuhan kita harus berpasrah diri dan menyerahkan segala penjagaan selama diperjalan kepada - Nya. Tidak hanya itu, kami juga saling manengingatka bahwa sejatinya di sana nanti kita tidak akan menemukan yang namanya Petugas dari Dinas Kebersihan untuk itu kita siapakan pelastik sebagai tempat sampah untuk dibawa pulang.
Sejatinya, pendakian direncanakn pukul 16.00 tapi kami sedikit terlambat hingga pendakian baru bisa dimuali pukul 16.04 WIB. Perjalanan menuju target berjalan normal dan aman - aman saja, meskipun melewati hutan dan menyeberang sungai sebanyak 15 kali tidak membuat kami berniat mundur.
Pukul 19.15 kami tiba di tempat, beristirahat sejenak kemudian mepersiapkan tenda dan perapian, cuaca di sini cukup dingin, meskipun kita semua memakai jaket yang cukup tebal dan penutup kepala, bahkan saya sendiri menggunakan syal namun tetap saja terasa dingin.
Menurut orang - orang tua di kampung kami, menyalakan api bukanlah perkara yang mudah di tempat ini, selain tempat di sekitar lokasi kamp begitu lembab juga dipengaruhi turunnya hujan gerimis. Awalnya kami sempat stress dan mulai kehabisan akal untukmenyalakan perapian, selain kesulitan mendapatkan kayu bakar yang kering juga sudah banyaknya minyak tanah yang kami gunakan. Api yang menyala ditengah hutan seperti ini akan sangat membantu, selain untuk menghangatkan tubuh juga untuk menjauhkan diri dari gangguan binatang buas.
Akhirnya salah satu dari kami (Mahyudi) memiliki sebuah ide kreatif yang katanya didapat sewaktu mondok di Pesantren dulu, dia mengambil satu kaleng bekas minuman kemudian memotong bagian atasnya dan memasukkan potongan - potongan plastik dan kayu ke dalamnya kemudian mengisi minyak tanah sampai kaleng penuh, hasilnya kami punya penerangan yang cukup untuk malam ini :)
Setelah makan malam dan sedikit berbincang - bincang, saya sendiri memilih untuk tidur sebab perjalanan 3 jam sudah cukup membuat saya merasa begitu capek. Sementara beberapa diantara mereka masih asik bcerita bahkan ada yang samnpai tidak tidur semalaman
Pagi harinya setelah makan, kami mulai menikmati indahnya alam Aek Nabontar, melihat keindahan alam ini membuat kita semakin tersadar akan besarnya ciptahan Tuhan, bahkan salah satu di antara kami tidak bisa mengucapkannya lewat kata - kata, sementara satu dari kami yang lain sampai lututnya terasa lemah dikarenakan keyakjuban akan ciptaan Tuhan ini. Kami berteriak "Ini Longat, Kampung kami akan kami jaga dan kami lestarikan"
Setelah menikmati alam yang mulai dari pagi sampai jam 12.30 siang, kami sepakat untuk mengakhiri perjalanan dan kembali ke kamp untuk persiapan pulang.
Sesampainya di kamp kami mulai packing untuk persiapan pulang. "Hal paling menyakitkan bagiku saat Camping seperti ini adalah ketika Packing dan memulai perjalanan pulang"
Untuk pulang kali ini kami menargetkan tiba diperkampungan sebelum maghrib, pada akhirnya kami sampai tepat pukul 18.14 wib. Itu artinya waktu yang kami habiskan selama di hutan mulai dari berangkat sampai kembali ke perkampungan adalah 26 jam 10 menit. Singkat memang tapi cukup berkesan. Semoga saja masih ada kesempatan untuk pendakian berikutnya.
Salam Lestari
Langganan:
Postingan (Atom)




















