Laman

Entri Populer

Senin, 09 April 2012

MUNAJATKU




Ku terbaring di peraduan malam
Sebelum mata terpejam dan terlena dalam mimpi
Kukenang sedikit lembaran masa lalu
Terkenang akan dosa – dosa yang telah kuperbuat
Terkenang ribuan maksiat yang kuperbuat

                        Kucoba sedikit saja mengingat amal yang tak seberapa
                        Tak kutemukan melainkan terapit dengan kubangan dosa
                        Kukenang dan kucoba ingati lebih dalam lagi
                        Tak ada kebaikan yang tidak terbalut nafsu

Kurenungi esok hari yang akan kugapai
Teringat maut yang bisa menghampiri kapan saja
Apa yang akan kubawa ke hadapan Ilahi
Jika esok mata tak pasti terbuka
Jika nafas tak pasti berhembus lagi, jika jantung tak mampu berdetak lagi

                        Kurenungi dosa yang menggunung tinggi
Yang tak mampu kupikul sendiri
Akankah aku mampu melewati shirot nanti

Di sepertiga malam ku bersujud dan bermunajad pada Mu Rabbi
Ku sesali dosa – dosa yang penuhi jiwa ini
Akankah ampun dan ridho – Mu dapat kuraih
Akankah amal yang sedikit ini berterima
Atau ia hanya seperti fatamorgana

                        Kusesali diri yang hidup dalam kesia – siaan
                        Kusesali dosa – dosa yang terlampau banyak
                        Akankah ada ampun dan ridho Mu yang layak kuperoleh
                        Yang aku tahu, meski seluruh sisa usiaku kupenuhi dengan cinta untuk – Mu
                        Takkan mampu mengganti semua kesia – siaan itu

Aku bersujud menghambakan diri pada Mu
Menghinakan diri pengganti kesombongan di masa lalu
Tapi itu tidak akan berarti untukku
Jika cinta, ridho dan magfiroh – Mu tak dapat kusentuh
Allah, aku kembali pada – mu dengan segenap kehinaanku
Rangkul aku dengan ridho dan cinta – Mu
Read More..

Sabtu, 07 April 2012

“ZOYA AKU MENCINTAIMU SAMPAI MATI”






Itulah sepenggal kata – kata yang muncul ketika kemarin (hari rabu, 04 – 04 – 2012) saya menonton tayangan Uya Kuya di salah satu stasiun televisi swasta. Tahukan acara Uya Kuya yang pake acara hipnotis – hipnotis itu? Tentu tau dong malahan ada di antara kita yang tidak melewatkan acara itu setiap tayang.
Saat itu Uya tanya kliennya apakah dia mencintai pacarnya (dalam tayangan itu nama pacar cowok yang ditanya ini Zoya) dengan mantap si cowok menjawab kalau dia mencintai Zoya sampai mati. Indah sekali kalimat itu bagi kita para pencinta terutama para remaja yang sedang menikmati masa – masa muda yang sedang pacaran, kata – kata itu menunjukkan seberapa besarnya rasa cinta kekasih kita pada kita. Adakah rasa cinta yang kita ingini selain orang mencintai kita sampai mati?
Tapi, yang muncul di benakku saat itu sebuah pertanyaan apakah si cowok tersebut sudah melaksanakan kewajibannya shalat dzuhur dan apakah dia juga akan menunjukkan rasa cinta kepada Allah dengan shalat ashar? Mengingat acara itu tayang di waktu terakhir dzuhur sampai masuk waktu ashar, apakah dia sudah menunjukkan cintanya kepada Allah sang Khaliq melebihi rasa cintanya terhadap Zoya yang katanya sampai mati akan dicintainya?
Itulah yang kerap kita lakukan, tidak jarang kita mendengar kata – kata cinta seperti itu bahkan ada di antara kita yang turut ikut mengucapkan kata – kata itu. Jika kamu mencintai seorang hamba Allah sampai mati, lalu seperti apa cintamu kepada Allah? Apakah kamu bisa mencintai Allah sampai mati? Jika saja kamu mencintai Allah sampai mati dan pada saat bersamaan kamu juga mencintai pacarmu sampai mati apakah itu tidak berarti rasa cintamu pada Allah sama dengan rasa cintamu pada pacarmu? Atau apakah kamu berfikir pacarmu itu dapat kamu jadikan sebagai pelindung di hari akhir?
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nisab di anatara mereka (manusia) pada hari itu” (Q.S Al – Mukminun : 101)

Pada saat itu ayah tidak bisa menyelamatkan anaknya begitu juga anak tidak akan mampu menyelamatkan dan menolong ayahnya. Satu – satunya pertolongan saat itu adalah Cinta dari Allah dan Syafaat Rasulullah. Jika di dunia kita lebih mencintai hamba melebihi rasa cinta kita pada Allah apakah kita akan mendapat cinta Allah yang mana orang – orang shaleh pun yang sepanjang hidupnya sudah di infakkan di jalan Allah karena rasa cinta pada Allah masih takut jika cintanya tidak berbalas.

Mungkin membaca catatan ini anda merasa sepele atau mungkin berfikir saya (penulis) sok alim tapi yakinlah janji Allah itu akan pasti adanya. Perhatikan juga orang – orang yang patah hati itu! Bukankah mereka merasakan sakit hati yang teramat sangat justru mereka dapatkan dari orang yang dulu mengatakan bahwa dia akan mencintai sampai mati. Seperti itulah cinta yang berlandas nafsu, dia akan menawarkan kebahagiaan tapi yang kamu tuai adalah kesedihan dan kesengsaraan hidup. Membuat kita mendewakan cinta (nafsu) sampai kita lupa akan Allah yang cinta – Nya abadi dan memberikan kebahagiaan yang tiada henti. Tahukah kamu Rabiatul Adwiyah yang sepanjang hidupnya mencintai Allah melebihi apapun dan ia menunjukkannya dengan perbuatan menghamba pada Allah disepanjang sepertiga malamya dan Allah membalas cintanya dengan Jannah.

AKU AKAN LAKUKAN APA PUN UNTUK MENJAGA CINTAMU

Aku sangat takut kehilangan cintamu dan akan kulakukan apa saja untuk terus bisa memiliki cintamu, itu adalah salah satu kata cinta yang sering kita dengar atau sering kita ucapkan untuk menjaga cinta kita dengan kekasih kita. Segitu takutnyalah kita kehhilangan rasa cinta itu sampai kita rela berbuat apa saja. Lalu apa kamu tidak takut kehilangan rasa cinta dari Allah terhadapmu?
Ketika pacar marah kita merendah dan meminta ma’af sejadi – jadinya agar kita tidak ditinggalkan sementara ketika terus berbuat maksiat kita tidak takut kepada Allah. Sangat jarang bahkan tidak pernah bersujud kepadanya mencium tanah (sajadah) sebagai bentuk penghambaan dan takut akan kehilangan rasa cinta – Nya terhadap kita. Tidakkah kamu tahu jika kamu kehilangan cinta Allah siapa lagi yang akan kamu mintai pertolongan? Apakah ada sebaik – baik penolong selain Allah? Pacar yang kamu sangat takut kehilangan cintanya itu bisa kamu cari cinta itu pada diri orang lain.

Saudara saudaraku, seandainya saat ini (saat kita lebih mencintai yang diciptakan dari pada Yang Maha Pencipta) malaikat maut dating menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kamu rela dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaan tanpa cinta kepada – Nya? Apa yang akan kamu katakana kepada malaikat munkar dan nakir di dalam kubur? Apa kamu yakin mampu mempertanggungjawabkan apa yang kamu lakukan saat ini di padang mahsyar kelak? Jawabnya ada di hatimu saudaraku, apa kamu akan kembali mencari dan menemukan cinta - Nya atau kamu tidaklah takut kehilangan cinta – Nya itu semua ada pada dirimu. Semoga Allah merahmati penulis dan juga saudara sekalian.
Alloohumma inna nas’aluka ridhooka wal jannah wa na’udzubika min saqotika wannar
“Ya Allah kami mohon Ridho – Mu dan surga – Mu, dan kami berlindung kepada – Mu dari murka – Mu dan neraka Mu”

Read More..

Selasa, 03 April 2012

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.(QS. 91:1)





بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8 قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,(QS. 91:8), Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,(QS. 91:9), Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(QS. 91:10)
 Ayat di atas adalah potongan dari Q.S As - Syams ayat ke 8 - 10. disitu Allah mengingatkan kita bahwa sebenarnya Allah menerangkan bahwa Ia telah mengilhamkan kepada setiap jiwa jalan kefasikan dan ketakwaan serta diterangkan-Nya pula perbedaan antara keduanya mana yang dapat membawa kebahagiaan dan mana yang dapat membawa kepada siksaan dan hukuman.
Saudaraku terlihat jelaslah seperti apa kita diciptakan dengan dua pilihan Jalan Fasiq atau Taqwa dan semua itu kita yang memilih, Allah SWT menerangkan, bahwa sangat beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya dan memupuknya sehingga dapat mencapai kesempurnaan akal dan perbuatan yang membuahkan kebaikan untuk dirinya dan orang lain. Dan sebaliknya orang tidak beruntung ialah orang yang merugikan dan menjatuhkan diri ke dalam jurang kebinasaan disebabkan melakukan perbuatan maksiat dan menjauhkan amal kebaikan dan akan mendapat siksaan di akhirat nanti.
Jika kamu memilih jalan taqwa maka Jannahlah tempat kembalimu dan itu benar - benar tempat kembali yang sebaik - baiknya dan jika kamu memilih jalan fasiq maka Narlah tempat kembalimu dan itu adalh tempat kembali paling buruk.

Di saat sekarang ini jalan kemaksiatan merupakan jalan yang paling mudah kita lihat, disetiap waktu dan tempat kita sering melihat orang berbuat maksiat dan bahkan kita tidak jarang kita juga ikut terlibat didalamnya. Sebutlah seperti menunjukkan kesombongan dan kecongkaan dibumi Allah ini, menggunjing juga merupakan hal yang lumrah bagi kita terutama kaum hawa, minum - minuman keras juga sekarang jadi pemandangan yang lumrah bahkan tidak malu - malu mereka para pelakunya menceritakannya dengan terang seakan mereka tidak takut mati atau tidak akan mati. Ya, mati kata itulah mungkin yang paling penting kita renumgi seperti Amirul Mukminin Umar Ibnu Khattab yang tuliskan dalam lingkar cincinnya "Hai Umar, cukuplah maut sebagai nasehat untukmu". Umar yang sudah merupakan jaminan surga, panglima perang yang paling ditakuti dan disegani lawan atau kawan, Khulafaur Rasyidin yang telah ratusan kaum kafir mati terhunus dan ditebas pedangnya ternyata TAKUT JUGA AKAN KEMATIAN sehingga dia begitu zuhud akan dunia dan begitu menjaga dirinya dari kemaksiatan dan tak pernah menunjukkan kesombongan.
Kita yang tidak pernah membunuh orang, bahkan membunuh kambingpun belum pernah dengan congkakknya berjalan di atas bumi Allah ini dengan menuruti nafsu yang membelenggu seakan - akan malaikat maut itu tidak pernah ada. Perhatikan orang - orang disekitarmu, yang mengendarai kenderaannya tanpa aturan, perempuan - perempuan "penjaja diri" meskipun mereka bukan penjual diri tapi tetap juga mereka bangga jika disentuh laki - laki yang datang padanya meskipun tanpa ikatan yang syah, para ibu - ibu yang menghias diri mereka bukan untuk suaminya tapi mereka berhias sangat cantik ketika mereka bepergian ke pasar ataupun pesta, para laki - laki dewasa yang lebih mengutamakan pembicaraan tidak penting di warung -warung ketimbang berkumpul dengan keluarganya, iri dan dengki yang kita pupuk di daam diri ita juga keegoisan yang kian hari kian tebal. Sia - sia sekali hidup kita ini jika termasuk golongan yang demikian.

Mengutip syair nasyid dari Hijjaz
Sebelum mata terlena di buaian malam gelita
Tafakurku di pembaringan mengenangkan nasib diri

Yang kerdil lemah yang bersalut dosa mampukah ku mengharungi titian sirat nanti
Membawa dosa yang menggunung tinggi
Tuhan beratnya dosa ku tak daya ku pikul sendiri Andainya esok bukan milik ku lagi
Dan mata pun ku tak pasti akan terbuka lagi
Indah sekali lirik lagu itu, pernahkah kita mengingat kematian sebelum terlelap dimalam hari?Membayangkan dosa - dosa kita yang menggunung tinggi. Pernah  terbayang jika esok bukan milik kita lagi, bekal apa yang akan kita bawa ke akhirat sana? apakah amal yang kita kerjakan sudah cukup untuk menutupi dosa - dosa kita selama ini dan cukup bagi kita untuk melewati titian shirat di akhirat nanti?
Apa kita akan sanggup menahan siksa yang begitu pedih dibakar di dalam api yang kayu bakarnya manusia?
Ingatlah saudaraku, kematian itu pasti datang tidak mengenal usia muda atau tua, tidak mengenal punya jabatan atau tidak juga tidak mengenal kaya atau miskin.

Kembalilah pada Allah, karena hanya dengan kembali padanya keimanan kita akan bisa kita sempurnakan lagi, iman itu tidak dapat kita warisi dari orangtua kita yang bertakwa juga tidak dapat kita temui di pasar untuk dibeli, ia ada didalam hati kita seperti mutiara yang harus diasah dan dihilangkan lumpurnya agar tampak cahaya kemilaunya

Berbuatlah amal baik selagi masih ada kekuasaan hidup, saat buku catatan amal masih dibuka, saat taubat masih diterima, saat pelari dari jalan Allah dan Rasul masih dipanggil sebelum hidup berakhir, sebelum pintu taubat tertutup dan sebelum para malaikat naik kelangit. (Pesan Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Tholib)

Allohumma inna na'udzubika min 'ilmi laa yanfau waminan nafsi laa tasyba'u
Ya Allah kami berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan nafsu yang tidak pernah puas
Read More..